Harus tahu ini terlebih dahulu:
Joshi -wa (ditulis dengan hiragana Ha (は)) mungkin sudah tidak absurd Anda dengar. Orang-orang awam yang ingin meniru-niru bahasa Jepang kerap melontarkan frase "watashiwaaaa". Pernah dengar? :)
Frase "watashiwaaaa" yang diucapkan dengan nada main-main itu bahwasanya ialah frase yang terdiri dari dua kata yaitu Meishi: watashi (saya) dan Joshi -wa.
Joshi -wa sangat familiar di telinga. Namun sering kali secara teoritis tata bahasa Jepang, Joshi ini dianggapsebagai Joshi yang sulit dikuasai. Hey! Itu pikiran Anda saja kawan. Jika Anda ingin memahami fungsi dari Joshi ini, tinggalkan cara berpikir ala jago tata bahasa Barat.
Fungsi -wa bahwasanya sangat simpel: ia ialah penentu tema percakapan.
Misalnya saat Anda menyampaikan frase "watashi-wa..." maka pendengar Anda akan berfikir "oh ia akan menceritakan sesuatu hal wacana dirinya" lalu ia akan memperhatikan apa yang Anda katakan sehabis itu. Dan sebaliknya nanti jikalau Anda mendengar orang menyampaikan contohnya "Bali-wa..." (Bali (itu)...) maka fikirkan lah, "oh, ia akan menyampaikan sesuatu hal wacana Bali." lalu perhatikan apa yang akan ia katakan wacana hal itu. Misalnya ia melanjutkan "Bali-wa utsukushii ne" (Bali indah ya) Anda sanggup menyimpulkan bahwa mengenai Bali, ia menganggapnya indah. :-)
Joshi -wa (ditulis dengan hiragana Ha (は)) mungkin sudah tidak absurd Anda dengar. Orang-orang awam yang ingin meniru-niru bahasa Jepang kerap melontarkan frase "watashiwaaaa". Pernah dengar? :)
Frase "watashiwaaaa" yang diucapkan dengan nada main-main itu bahwasanya ialah frase yang terdiri dari dua kata yaitu Meishi: watashi (saya) dan Joshi -wa.
Joshi -wa sangat familiar di telinga. Namun sering kali secara teoritis tata bahasa Jepang, Joshi ini dianggapsebagai Joshi yang sulit dikuasai. Hey! Itu pikiran Anda saja kawan. Jika Anda ingin memahami fungsi dari Joshi ini, tinggalkan cara berpikir ala jago tata bahasa Barat.
Fungsi -wa bahwasanya sangat simpel: ia ialah penentu tema percakapan.
Misalnya saat Anda menyampaikan frase "watashi-wa..." maka pendengar Anda akan berfikir "oh ia akan menceritakan sesuatu hal wacana dirinya" lalu ia akan memperhatikan apa yang Anda katakan sehabis itu. Dan sebaliknya nanti jikalau Anda mendengar orang menyampaikan contohnya "Bali-wa..." (Bali (itu)...) maka fikirkan lah, "oh, ia akan menyampaikan sesuatu hal wacana Bali." lalu perhatikan apa yang akan ia katakan wacana hal itu. Misalnya ia melanjutkan "Bali-wa utsukushii ne" (Bali indah ya) Anda sanggup menyimpulkan bahwa mengenai Bali, ia menganggapnya indah. :-)
