Harus diketahui lebih dahulu :
Sebenarnya simpel sekali melaksanakan konyugasi: tambahkan saja konyugasi yang sempurna di belakang doushi. Yang menciptakan konyugasi agak greget yaitu hukum peralihan bunyinya.
Contoh untuk -nai:
iku (pergi) + nai = ikanai (tidak pergi)
hanasu (menceritakan) + nai = hanasanai (tidak menceritakan)
matsu (menunggu) + nai = matanai (tidak menunggu)
asobu (bermain) + nai = asobanai (tidak bermain)
taberu (makan) + nai = tabenai (tidak makan)
akeru (membuka) + nai = akenai (tidak membuka)
miru (melihat/menonton) + nai = minai (tidak melihat/menonton)
hashiru (berlari) + nai = hashiranai (tidak berlari)
suru (melakukan) + nai = shinai (tidak melakukan)
kuru (datang/tiba) + nai = konai (tidak datang)
Tampaknya cukup mudah? Coba dengan -ta:
iku (pergi) + ta = itta (telah pergi)
hanasu (menceritakan) + ta = hanashita (telah menceritakan)
matsu (menunggu) + ta = matta (telah menunggu)
asobu (bermain) + ta = asonda (telah bermain)
taberu (makan) + ta = tabeta (telah makan)
akeru (membuka) + ta = aketa (telah membuka)
miru (melihat/menonton) + ta = mita (telah melihat/menonton)
hashiru (berlari) + ta = hashitta (telah berlari)
suru (melakukan) + nai = shita (telah melakukan)
kuru (datang/tiba) + nai = kita (telah datang)
Jangan menghafal dulu. Pada post selanjutnya, saya akan memperlihatkan trik yang akan mempermudah Anda menguasai Konyugasi doushi secara alami. ;-)
Jaa, mata ne (well, hingga jumpa ya) :-)
Sebenarnya tidak terlalu sempurna menyamakan Doushi-nya bahasa Jepang dengan Kata Kerja-nya bahasa Indonesia. Namun, yah, mau gimana lagi, Kata Kerja yaitu kelompok kata yang paling menyerupai dengan Doushi. Kaprikornus untuk alasan fasilitas pencernaan Anda (maksud saya pencernaan logika Anda), baiklah lah, bilang lah doushi itu kata kerja.
Doushi tidak hanya menjelaskan perbuatan menyerupai Kata Kerja. Akan tapi banyak juga doushi yang dipakai untuk menjelaskan situasi. Misalnya "iru" (ada (khusus kalau Subjek atau Fokus-nya yaitu makhluk hidup)), "aru" (ada)"naru" (menjadi), "dekiru" (bisa/dapat), "ochiru" (jatuh), "furu" (menetes turun), "wakaru" (mengerti), dsb. Kata Kerja-nya antara lain "iku" (pergi), "taberu" (makan), "shiru" (mengetahui), "miru" (melihat/menonton), dsb.
Contohnya nih:
kane-ga aru = ada uang
kanemochi-ni naru = jadi orang kaya
kuruma-ga aru = ada kendaraan beroda empat (dapat juga diartikan "mempunyai mobil")
ookii na ie-ga aru = ada rumah besar (diartikan "mempunyai rumah besar")
utskushii tsuma-ga iru = ada istri bagus (diartikan "mempunyai istri cantik")
ame-ga furu = hujan turun
asagohan-o taberu = makan sarapan (diartikan "nyarap".. :-p)
Nihon-ni iku = pergi ke Jepang
paaraado-o miru = menonton pawai(parade)
dsb.
Tidak perlu menghafal dulu. Contoh di atas saya berikan untuk menanamkan dalam pola pikir Anda perihal kaidah kedua penyusunan kalimat bahasa Jepang. Masih ingat kaidah kedua, kan? :)
Lihat lah, Kata Kerja sebagai Predikat senantiasa disebutkan paling akhir.
Ah, saya berani bertaruh, bagi Anda hal menyerupai di atas simpel sekali. Lalu dimana greget nya?
Hehehe..
Bagian greget-nya doushi ada pada apa yang biasa disebut para hebat tata bahasa sebagai Aturan Konyugasi Kata Kerja. Kebanyakan para hebat tata bahasa Jepang mengatakannya sebagai hukum tersulit bahasa Jepang. Saya pun awalnya merasa begitu. Gregetan dah pokoknya. Hahaha...
Konyugasi mirip-mirip menyerupai Imbuhan Akhiran, namun Konyugasi punya impact (efek) yang lebih besar terhadap makna keseluruhan kalimat daripada impact-nya Imbuhan. Ah, sesungguhnya saya benci mempersulit Anda dengan teori-teori teknis. Namun saya ingin Anda setidaknya memahami bahwa salah satu kunci menguasai bahasa Jepang yaitu Konyugasi.
Pendidikan formal bahasa Jepang mungkin akan mengajarkan Anda hingga 8 atau lebih macam Konyugasi, namun di pos ini saya hanya akan mengambil pola 2 macam Konyugasi:
-nai (digunakan untuk menyampaikan "tidak") dan -ta (digunakan untuk menyatakan bahwa doushi telah terlaksana).
-nai (digunakan untuk menyampaikan "tidak") dan -ta (digunakan untuk menyatakan bahwa doushi telah terlaksana).
Sebenarnya simpel sekali melaksanakan konyugasi: tambahkan saja konyugasi yang sempurna di belakang doushi. Yang menciptakan konyugasi agak greget yaitu hukum peralihan bunyinya.
Contoh untuk -nai:
iku (pergi) + nai = ikanai (tidak pergi)
hanasu (menceritakan) + nai = hanasanai (tidak menceritakan)
matsu (menunggu) + nai = matanai (tidak menunggu)
asobu (bermain) + nai = asobanai (tidak bermain)
taberu (makan) + nai = tabenai (tidak makan)
akeru (membuka) + nai = akenai (tidak membuka)
miru (melihat/menonton) + nai = minai (tidak melihat/menonton)
hashiru (berlari) + nai = hashiranai (tidak berlari)
suru (melakukan) + nai = shinai (tidak melakukan)
kuru (datang/tiba) + nai = konai (tidak datang)
Tampaknya cukup mudah? Coba dengan -ta:
iku (pergi) + ta = itta (telah pergi)
hanasu (menceritakan) + ta = hanashita (telah menceritakan)
matsu (menunggu) + ta = matta (telah menunggu)
asobu (bermain) + ta = asonda (telah bermain)
taberu (makan) + ta = tabeta (telah makan)
akeru (membuka) + ta = aketa (telah membuka)
miru (melihat/menonton) + ta = mita (telah melihat/menonton)
hashiru (berlari) + ta = hashitta (telah berlari)
suru (melakukan) + nai = shita (telah melakukan)
kuru (datang/tiba) + nai = kita (telah datang)
Jangan menghafal dulu. Pada post selanjutnya, saya akan memperlihatkan trik yang akan mempermudah Anda menguasai Konyugasi doushi secara alami. ;-)
Jaa, mata ne (well, hingga jumpa ya) :-)
