Halaman

Jumat, 14 Desember 2018

Bagaimana Bersama-Sama Penutur Bahasa Jepang Menyusun Tuturan-Nya?

Anda yang pernah berguru bahasa Jepang secara formal niscaya diajari bahwa kalimat bahasa Jepang disusun dengan rumus: Subjek-Keterangan-Objek-Predikat (S-K-O-P). 

Yah yah yah. Itu sih jika dipandang dari pandangan keilmuan grammarians Barat. Konon para andal tata bahasa Barat, terutama yang orisinil penutur bahasa Inggris, tergila-gila dengan inspirasi bahwa bahasa di dunia ini semua sanggup dipandang dari sudut penyusunan S dan O dan V, dan sebagainya itu. Ya wajarlah, mereka berpandangan menyerupai itu alasannya ialah dalam tata dominan bahasa-bahasa Barat, konstruksi SV ialah kewajiban, namun hey, tidak semua bahasa menyerupai itu. Terutama bahasa Timur menyerupai Jepang, tuturan tolong-menolong tidak sanggup dibatasi dengan rumus menyerupai SKOP itu.
Bahasa Jepang ialah bahasa bangsa yang pemalu.
Sifat aib bangsa Jepang sangat tercermin dari bahasanya. Entah moral bangsa Jepang yang menciptakan bahasanya mencerminkan itu, atau sebaliknya bahasa Jepang yang menciptakan mereka mempunyai moral malu. Entah lah, yang pastinya semakin tinggi level bahasa Jepang semakin kelihatan sifat malunya.

Nah, bayangkan bahasa pemalu itu menyerupai apa?

Sebenarnya, dalam banyak kasus, tuturan kalimat bahasa Jepang hanya membutuhkan Predikat. Kadang mereka membutuhkan Objek+Predikat atau Fokus+Predikat. Kadang hanya Keterangan+Predikat. Jarang bahasa Jepang menyebutkan Subjek secara eksplisit. Ini alasannya ialah sifat aib mereka.

Jadi, apa rumusan yang sempurna untuk merumuskan tuturan bahasa Jepang?
Dalam blog ini, tidak ada rumus S K O P!

Adanya kaidah dasar: 
selama ada minimal satu Predikat. Maka itu sudah cukup disebut kalimat.
 Kaidah kedua adalah:
Predikat harus selalu disebutkan paling simpulan dalam tuturan. Begitu juga induk kalimat harus disebutkan sehabis semua anak kalimat dituturkan.

 Jika Anda berkeras ingin melihat rumus tuturan bahasa Jepang, perhatikan ini (komponen dalam kurung () artinya tidak wajib dituturkan selama pendengar mengerti konteksnya) :

(semua yang selain Predikat) + Predikat 

(Anak Kalimat+Anak Kalimat) + Induk Kalimat

Predikat ialah Kata Kerja atau Kata Sifat. Bayangkan ini, Ayumi menyampaikan pada Takeshi (keduanya tokoh fiktif, apabila ada kesamaan nama maka itu kebetulan saja :-p ) "ureshii" (senang) maka si Takeshi tahu dari konteks, siapakah yang sedang bahagia (kemungkinan besar si Ayumi). Jika ada seseorang bertanya pada Anda "tabemasu ka?" (sudah makan?) maka kemungkinan ia sedang bertanya apakah Anda sudah makan atau seseorang sudah makan, dsb. Begitu, tergantung dari konteks.

Tuturan satu kata satu kalimat menyerupai itu sangat lazim dan masuk akal dalam bahasa Jepang. Hanya saja, tidak selamanya keadaan semudah itu. Lah, untuk itu lah aku menulis blog ini. Kalau sesuatu terlalu gampang ya nggak seru lah, kan? :-p

Pada tulisan-tulisan aku yang berikutnya, aku akan banyak membahas wacana tata bahasa Jepang dari level Kudaketa. Pada umumnya lembaga-lembaga pendidikan formal, pelajaran bahasa Jepang pribadi dimulai pada level Teinei-go. Menurut saya, cara menyerupai itu ialah kekeliruan. Karena fondasi membangun kalimat level Teinei-go ialah kalimat level Kudaketa. Masa' iya membangun bangunan tanpa memperkuat fondasi dulu? (-_-)a

Yosh! Sampai ketemu lagi dengan post berikutnya! :-D
Facebook Twitter Google+

Back To Top